Berbagai Cara Penyelesaian Konflik Keagamaan
Tentu
kita mengerti bahwasannya kehidupan sosial di Indonesia yang kaya dan beragam
tidak selalu mulus. Selalu ada konflik yang muncul karena perasaan antar
kelompok. Impian Pancasila tentang visi damai kebhinekaan tampaknya semakin
jauh jika melihat intoleransi di kalangan ulama Indonesia.
Indonesia
adalah negara dengan enam agama negara dan banyak kepercayaan lokal yang
tersebar di seluruh wilayahnya. Populasi agama terbesar di Indonesia adalah
Muslim, dengan lebih dari 229 juta, atau 13% dari populasi Muslim dunia.
Keberagaman dan ketimpangan jumlah pemeluk agama inilah yang sering menjadi
penyebab konflik agama di Indonesia.
Kebebasan
beragama diabadikan dalam banyak pasal termasuk Pasal 29 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang mengatur bahwa negara merdeka dimaksudkan bagi semua warga negara untuk
menerima dan menerima agamanya masing-masing. itu menjamin. Namun, pada
kenyataannya, fakta kontradiktif telah
diamati di lapangan.
BBC
News melaporkan bahwa setidaknya 200 gereja telah ditutup atau ditolak oleh
penduduk setempat selama dekade terakhir. Tirto.id, salah satu portal online, mengatakan hal yang sama.
Publikasinya yang berjudul Kasus Intoleransi menyoroti banyaknya praktik
intoleransi minoritas selama pandemi.
Gereja GSJA Kanaan, Kabupaten Nganjuk, Jemaat Jemaat tutup untuk beribadah pada
tanggal 21 September dan 2 Oktober.
Sholat
tidak hanya dilarang tetapi juga diwajibkan untuk membaca kitab Muhammad
al-Fatih 1453 Felix Siau dari Dewan Sekolah Kepulauan
Bangka Bilitun untuk semua SMP/ siswa kejuruan. Meskipun surat edaran terakhir
dibatalkan sehari kemudian, insiden itu membangkitkan sentimen banyak orang yang terlibat dan menimbulkan
pertanyaan tentang jumlah kasus intoleransi yang belum terselesaikan. Ikhtisar
Seperti yang Anda lihat, intoleransi
beragama bukanlah topik baru, tetapi topik lama. Ada beberapa contoh perpecahan
agama, seperti konflik antara Kristen dan Muslim di Poso pada akhir 1990-an dan
konflik di Ambon pada 1999 karena intimidasi oleh pemuda Muslim terhadap Kristen. anggota.
Gereja Injili menyerang jemaah Muslim yang sedang shalat Idul Fitri di markas
Trikala di Korea Utara, dan pasukan keamanan tidak berdaya melawan geng Gidi
sampai konflik Situbondo tahun 1996.
Seperti
Gajah yang tidak terlihat, intoleransi dan diskriminasi agama ini seperti
penahan angin dan tidak tidak membawa
pelaku ke pengadilan. Orang-orang takut jika hal-hal seperti ini terus
berlanjut, mereka akan dianggap remeh.
Sebagai warga negara Indonesia, tidak semua orang sama dan tidak ada hierarki
dalam agama, mengapa menunggu penegakan
hukum yang lebih baik? Tindakan lebih lanjut diperlukan sekarang, dimulai
dengan inisiatif masyarakat. Kisah heroik kecaman umat manusia atas tindakan
diskriminasi, tanpa memandang ras, agama atau golongan, kini harus bergema di
seluruh Indonesia. Jaga orang-orang di
sekitar Anda yang lahir bersama Anda di Indonesia dan kembangkan toleransi
berdasarkan kasih sayang.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa keragaman agama di Indonesia yakni konflik yang ada dalam
kehidupan masyarakat, adalah konflik yang muncul kemudian. Isu agama
berbenturan dengan politik dan nyaris saja menyeret masyarakat
Indonesia ke dalam isu agama. Intoleransi beragama yang terjalin dengan politik
telah menjerumuskan masyarakat Indonesia ke
jurang perpecahan, menyulut ketidakpercayaan antar kelompok dan
mendorong masyarakat untuk menyadari bahwa toleransi perlu ditanamkan dan
didorong sejak dari dini. .
Munculnya
sekte-sekte dari agama-agama besar menimbulkan persoalan baru dan membuka pintu
diskriminasi terhadap kelompok agama atau kepercayaan selain mayoritas. Adanya
kebebasan beragama bukanlah kebebasan tanpa batas. Dengan kata lain, kebebasan
beragama membutuhkan pembatasan yang harus diterima oleh setiap individu.
Masyarakat
harus menjadi lebih toleran untuk menghadapi konflik ini. Apalagi karena
Indonesia adalah negara multikultural dengan banyak suku, budaya dan agama yang
berbeda. Di sinilah timbul pertanyaan tentang perbedaan antara satu agama
dengan beberapa agama lainnya.
Tentu
saja, menghindari konflik antar kelompok agama, aliran atau pendapat dalam
kaitannya dengan agama lain membutuhkan pemahaman bersama antar agama yang
dapat meminimalkan atau meminimalkan konflik. Lebih banyak interaksi sosial
diperlukan untuk menghindari konflik dan saling tidak percaya, dan peran
pemerintah adalah meminimalkan konflik agama dan menjaga kerukunan umat
beragama.
Untuk menyelesaikan konflik agama, masyarakat harus
melakukan beberapa upaya: mengakui bahwa semua agama memiliki misi damai. Setiap orang dapat
memahami betapa pentingnya perdamaian bagi suatu negara, masyarakat, dan dunia. Utamakan hubungan baik dengan orang
lain. Mengingat Indonesia merupakan negara multikultural dengan perbedaan suku,
budaya dan agama, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak konflik dan permasalahan
yang muncul di masyarakat akibat perbedaan agama. Isu-isu agama sekarang
diselingi dengan isu-isu politik, dan orang-orang takut akan kerusuhan dan
perpecahan di sekitar isu-isu tertentu.
Dengan
keragaman yang ada, masyarakat harus menghormati dan menghargai perbedaan dan
membangun toleransi yang besar. Jika masyarakat menanamkan toleransi, kita
dapat membangun negara Indonesia yang lebih baik, mengurangi konflik dan
menjalani kehidupan yang damai. Menyusul pengumuman Presiden Jokowi pada
Selasa, 22 Desember 2020, enam menteri baru dari reshuffle kabinet Indonesia yang sedang berlangsung dilantik ke
kantor Presiden Jokowi. Enam menteri baru yang diangkat oleh Presiden Joko
Widodo telah menjabat. Enam menteri Jokowi diumumkan oleh presiden pada Selasa.
Keenam menteri baru ini harus tampil baik sebagai wakil menteri, terutama pada
hal-hal yang mempengaruhi upaya pemerintah menangani pandemi COVID-19, dan
tentu saja harus jujur, bersih dan korupsi non-partisan.
Presiden
Joko Widodo mengucapkan selamat kepada para menteri yang baru terpilih setelah
mengambil sumpah jabatan. Dari enam menteri Jokowi yang baru terpilih, publik
menuntut pemerintahan Jokowi Marhu berfungsi
lebih baik. Sementara itu, menjaga toleransi antarumat beragama kini dipandang
sebagai salah satu tantangan yang dihadapi Menteri Agama (Menag) Yakut Choril
Kunmas, yang baru saja dilantik oleh Presiden Joko Widodo.
Direktur
Eksekutif Setara Institute Ismail Hasani berharap Yakut Choril Kumasu dapat
memenuhi harapan publik atas aspirasi
kiai semua agama dan kepercayaan yang
dianutnya.
Ismail Hasani mengatakan: “Saya ingin mengingatkan bahwa menteri agama adalah
menteri semua agama dan kepercayaan.”
Oleh
karena itu, Ismail menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh penerus
menteri agama yang baru yakni Fakhrul
Raj, adalah memberikan pelayanan keagamaan yang baik dalam kegiatan
keagamaan maupun dalam pendidikan agama untuk semua keyakinan agama. “Kedua,
saya berharap Menteri Agama ikut andil mengambil peran
utama dalam toleransi dan antikorupsi di segala bidang.” Ismail mengatakan, isu
toleransi sudah lama menjadi agenda pemerintah. Isu toleransi menjadi salah
satu urusan Dalam Negeri (Humas) Kementerian Agama (Humas), bersama Kementerian
Dalam Negeri (Kemendagri) dan Polri, lanjutnya.

